Asih, Sheilla, dan April Bicara soal Ambisi Mengejar Gengsi Thailand

Kuala Lumpur – Thailand jadi kekuatan terbaik voli di Asia Tenggara saat ini, khususnya di sektor putri. Trio tim nasional putri voli Indonesia punya pandangan soal itu.

Thailand sukses mengawinkan medali emas voli SEA Games 2017 Kuala Lumpur di sektor putra dan putri usai mengalahkan Indonesia. Di sektor putra, Indonesia sejatinya diharapkan bisa merebut emas menyusul keberhasilan finis keempat di Kejuaraan Asia tahun ini.

Secara kekuatan tim putra Indonesia dinilai masih seimbang dengan Thailand, kalau tak lebih baik. Berbeda dengan tim putri, yang bahkan para pemainnya sendiri mengakui berat untuk bisa mengatasi Thailand.

Tim putri Thailand sendiri saat ini duduk di peringkat 16 dunia. Mereka belum lama ini bahkan mengalahkan Brasil yang dianggap salah satu tim elite dunia di World Grand Prix.

Maka, ketika tim putri Indonesia bisa memberikan perlawanan cukup ketat dalam perolehan poin di final SEA Games 2017 muncullah kepuasan tersendiri. Terlepas dari skornya yang 0-3, Berlian Marsheilla dan kawan-kawan memberikan perlawanan dengan poin 18-25, 24-26, dan 24-26.

“Udah merasa puas lah kalau aku pribadi. Soalnya kalau melihat kelasnya tim Thailand kan, dia udah main Grand Prix, udah kelas dunia lah kalau bisa dibilang. Makanya ya kalau kita bisa ngimbangi, ya udah seneng banget lah,” ungkap Asih Titi Pangestuti kepada detikSport usai pertandingan.

Asih merupakan salah satu pemain senior di timnas voli saat ini. Usianya memang baru 24 tahun, tapi dia sudah tiga kali ikut SEA Games termasuk tahun ini.

Melihat perjalanan timnas sejauh ini, dia menilai potensi untuk melangkah ke level lebih tinggi dan menyusul Thailand sudah ada. Hanya saja perlu dukungan lebih untuk bisa ke sana.

“Kalau menurut aku pribadi, pertama dari fondasinya kita. Kalau mereka kan kalau udah timnas ya jangka panjang. Kalau kita kan mau SEA Games ini misalnya, baru tiga bulan sebelumnya baru kumpul, baru latihan,” ujar Asih.

“Kemudian kalau aku melihat dari Thailand sama Indonesia sebenarnya buat pemukul kita nggak jauh beda. Cuma buat pengumpan aja yang mungkin ketinggalan jauh lah,” imbuhnya.

Salah satu hal paling krusial untuk ditangani adalah ujicoba-ujicoba. Selain itu, persaingan di level liga juga perlu ditingkatkan lagi agar membiasakan pemain dengan atmosfer kompetisi yang ketat.

Try out kurang banget lah. Kita sebelum ke sini juga cuma sekali doang try-out ke Vietnam. Cuma sekali banget, nggak ada lagi,” perempuan berhijab ini mengungkapkan.

“Kompetisi liga juga menurut aku kurang ya, pengalaman main kita masih kurang lah dibandingkan mereka. Setahu aku sih liga-liga di Thailand lebih bagus daripada di Indonesia,” tambahnya.

Soal ujicoba, Berlian Marsheilla dan Aprilia Manganang punya pandangan serupa. Sheilla yang merupakan anggota paling senior di tim menilai para pemain terlalu jarang ikut kompetisi-kompetisi di level Asia.

“Saya rasa Indonesia harus berbenah dalam arti kalau Thailand ini kan dalam setahun ikut kejuaraan bisa 10 atau bahkan lebih. Nah, kalau bisa Indonesia ikut seperti Thailand,” katanya kepada para wartawan.

“Kalau dihitung paling Indonesia ikut paling cuma sekali-dua kali di kejuaraan Asia. Kita pengen ikut kayak Thailand, jadi pengalamannya ada,” Sheilla menambahkan.

Ujicoba di level tinggi itu menjadi penting karena mematangkan para pemain baik secara permainan maupun secara mental. April mengakui Thailand bisa lebih tenang dan matang secara mental di atas lapangan.

“Lebih ke jam terbang ya. Mereka itu lebih banyak bertanding dibandingkan kita. Kalau mereka kan kelas-kelasnya, kalau bertanding di Eropa. Kalau kita kan paling jauh ya Kalimantan, Sumatera, Papua. Jadi pengalamannya kurang, tapi jadi pelajaranlah buat kita nanti,” kata April.

(raw/fem)